Pengurus PSMTI Dumai Gelar Silaturahmi dengan Anggota
DUMAI (MR) - Demi memperkokoh kekompakan dan kesolidan, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Dumai atau Indonesian Chinese Clan Social Association Dumai City periode 2025 - 2029 mengadakan silahturahmi antar pengurus dan anggota, Minggu (15/3/2026) sore di Ballroom MaxOne Hotel.
Dalam sambutannya, Ketua PSMTI Dumai Zainal Arif, S.Pi (Tok Siu Hong) bercerita bahwa kegiatan silahturahmi pada hari itu sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya.
"Terima kasih kepada panitia kecil yang telah meluangkan waktu dan tenaga demi terlaksananya kegiatan hari ini," ujar Zainal Arif.
Zainal Arif juga berkesempatan bercerita sekilas sejarah bagaimana terbentuknya PSMTI.
"Diawali terjadinya kerusuhan etnik di Jakarta pada 1998. Setelah para tokoh-tokoh senior Tionghoa berkumpul, mereka sepakat membentuk PSMTI, dengan struktur organisasi mulai dari pusat hingga daerah. Lewat akta notaris nomor 55, maka terbentuklah PSMTI, dengan Ketua Umum pertama adalah Brigjen TNI Teddy Yusuf, seorang jendral berdarah Tionghoa," ungkap Zainal Arif.
Ditambahkannya lagi, PSMTI semakin kuat saat Presiden Gus Dur menerbitkan Keppres No.6 Tahun 2000, yang mencabut Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 yang mengatur tentang pembatasan perayaan Imlek dan hari raya lainnya bagi warga Tionghoa di Indonesia.
Dengan Keppres inilah, Hari Raya Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Bahkan ada pengakuan negara terhadap budaya Barongsai Tionghoa Indonesia untuk bisa ditampilkan di muka umum.
Warga Tionghoa Indonesia semakin eksis tatkala Presiden SBY menerbitkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967, yang sebelumnya mengubah istilah "Tionghoa" menjadi "Cina".
Dengan Keppres ini, istilah "Cina" diganti kembali menjadi "Tionghoa" untuk penyebutan orang dan komunitas, serta "Republik Rakyat Tiongkok" untuk penyebutan negara.
Keppres ini dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 Maret 2014, dengan tujuan menghilangkan dampak psikososial diskriminatif yang dialami warga bangsa Indonesia keturunan Tionghoa akibat penggunaan istilah "Cina".
"Itu sebabnya PSMTI harus ada sampai dari pusat sampai ke daerah. PSMTI harus ada minimal 2/3 se Indonesia. Bukan untuk mengkapling-kapling kekuasaan, bukan untuk mencaplok kebijakan tapi untuk mengkawal Keppres-keppres tersebut," kata Zainal Arif menggebu-gebu sambil tersenyum.
Dikatakannya lagi, ada 4 pilar PSMTI. Pertama, PSMTI melakukan pengabdian terhadap sesama. Kedua, ikut melestarikan budaya. Ketiga, peningkatan SDM. Dan terakhir, PSMTI memiliki integrasi kebangsaan dengan suku-suku lain.
"PSMTI tidak berafiliasi ke partai politik. Tapi PSMTI bisa mendukung warga Tionghoa nya yang ikut berpolitik," lagi terang Zainal Arif.
"Di Dumai juga ada Yayasan Pelita Hati Warga Tionghoa Dumai. Saat ini Yayasan Pelita Hati Warga Tionghoa Dumai sudah punya aset tanah dan bangunan dalam tahap pembangunan yang terletak di Kelurahan Purnama," pungkas Zainal Arif.
Pertemuan silahturahmi semakin berbobot tatkala Sekretaris PSMTI Dumai Patrik Tatang tampil didepan menyampaikan materi kebangsaan.
"PSMTI pusat bekerjasama dengan Lemhanas. Jadi setiap tahun ada kuota untuk anggota PSMTI daerah mengikuti pelatihan wawasan kebangsaan di Lemhanas Jakarta selama 14 hari," ujar Patrik Tatang.
"PSMTI hadir di Bumi Pertiwi untuk mengaktualisasikan wawasan kebangsaan ini," ungkap Patrik Tatang dalam salah satu poin materinya.
Agenda juga diisi dengan pembagian seragam PSMTI bagi pengurus dan anggota dilanjutkan dan karena agenda silahturahmi juga bertepatan bulan Ramadhan 1447 H/2026 M, maka PSMTI berbagi 300 paket takjil bagi pengendara yang melintas didepan hotel.
Pantauan Jurnalis di lokasi acara silahturahmi, tampak hadir Bendahara PSMTI Dumai Willy Susanto dan Ketua-ketua Bidang serta Dewan Pembina, Dewan kehormatan, Dewan Penasehat, Dewan Pakar, Dewan Pemeriksa Keuangan PSMTI Dumai serta mantan Ketua PSMTI Dumai periode 2021 - 2025 Aban Lee.
(ES)
